17 September 2026
Karhutla Kalimantan dan Kabut Asap: Solusi Teknologi Pemadam Kebakaran Dunia untuk Selamatkan Jutaan Warga
Musim kemarau tahun ini kembali menjadi mimpi buruk bagi jutaan warga Kalimantan. Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah provinsi—mulai dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur—dan menghasilkan kabut asap pekat yang menyelimuti pemukiman selama berbulan-bulan. Data resmi bahkan mencatat luas lahan yang terbakar di Kalimantan sepanjang paruh pertama tahun ini sudah melampaui total luas kebakaran sepanjang tahun sebelumnya. Dampaknya jauh dari kecil: total masyarakat yang terdampak langsung oleh karhutla dilaporkan mencapai 12,5 juta jiwa, dan total kasus kumulatif infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak di Kalimantan dan Sumatra telah menembus lebih dari seratus ribu kasus, dengan puluhan ribu di antaranya menimpa anak-anak balita.
Persoalan karhutla dan kabut asap bukan cuma soal memadamkan api secepat mungkin, tetapi juga soal bagaimana mengelola dampak asap agar tidak terus-menerus mengancam kesehatan masyarakat. Menariknya, tantangan seperti ini bukan hanya dialami Indonesia. Benua Eropa pada 2025 lalu mencatat musim kebakaran hutan terparah dalam sejarah modern, dengan lebih dari satu juta hektare lahan terbakar hanya di wilayah administratif Uni Eropa saja. Krisis tersebut memaksa negara-negara Eropa mengevaluasi total strategi dan doktrin operasional pemadaman kebakaran mereka. Pelajaran dari sana bisa menjadi cermin berharga bagi Kalimantan dalam menghadapi krisis karhutla yang terus berulang setiap tahun.
Pelajaran dari Eropa: Ketika Cara Lama Padamkan Api Tak Lagi Cukup
Kabut asap akibat karhutla bukan lagi sekadar gangguan musiman—kualitas udara di sejumlah kota Kalimantan bahkan sempat mencapai indeks kualitas udara pada kategori berbahaya, membuat warga kesulitan bernapas, jarak pandang menyempit drastis, hingga sekolah terpaksa meliburkan aktivitas tatap muka. Lahan gambut yang terbakar menjadi masalah tersendiri, sebab api di bawah permukaan gambut sering kali tidak sepenuhnya padam meski di permukaan sudah tampak hitam dan tenang. Inilah yang membuat karhutla di Kalimantan sulit dituntaskan hanya dengan cara pemadaman konvensional.
Laporan Joint Research Centre Komisi Eropa atas musim kebakaran 2025 menegaskan bahwa gelombang panas ekstrem akibat perubahan iklim membuat api kini menyebar dengan kecepatan dan intensitas yang melampaui kemampuan metode pemadaman konvensional. Deployment operasional menjadi lebih panjang, lebih menguras sumber daya, dan menuntut peralatan yang jauh lebih presisi. Pola yang sama sebenarnya terlihat di Kalimantan: air yang disiramkan ke permukaan lahan gambut sering kali hanya membasahi bagian atas, mengalir begitu saja, lalu menguap tanpa sempat menembus material organik padat seperti gambut dan serasah yang terbakar dalam. Titik bara yang tertinggal di bawah permukaan inilah biang keladi di balik kebakaran yang terus muncul kembali meski sudah berkali-kali dipadamkan.
Wetting Agent dan Foam: Teknologi Hemat Air untuk Tuntaskan Api Gambut
Solusi atas masalah ini sebenarnya berbasis prinsip fisika sederhana: air murni memiliki tegangan permukaan tinggi sehingga sulit menembus material berpori seperti gambut. Dengan menambahkan agen pembasah (wetting agent) atau foam concentrate kelas Class A dalam konsentrasi rendah, tegangan permukaan air dapat dipecah sehingga air menjadi lebih “basah” dan mampu menembus jauh ke dalam material yang terbakar—bukan hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga mendinginkan dan mematikan bara yang bersembunyi di bawahnya. Teknologi ini terbukti mampu memangkas konsumsi air hingga 50%, sebuah keunggulan besar mengingat banyak titik karhutla di Kalimantan berada di lokasi terpencil dengan akses air yang sangat terbatas.
Melalui lini produk National Foam, Dinar Inti Duba menghadirkan agen pembasah dan foam concentrate yang dirancang khusus untuk kebutuhan pemadaman lahan gambut dan kebakaran hutan, membantu tim pemadam bekerja lebih efisien meski dengan sumber daya air yang terbatas—sekaligus menekan risiko api kembali menyala (re-ignition) yang selama ini menjadi momok utama karhutla di Kalimantan.
Deteksi Dini, Padamkan Cepat: Kunci Menekan Asap dan Melindungi Warga dari ISPA
Semakin cepat titik api terdeteksi dan semakin tuntas proses pemadamannya, semakin singkat pula durasi kabut asap yang dihasilkan—dan semakin kecil pula risiko lonjakan ISPA di tengah masyarakat. Di sinilah pendekatan terintegrasi menjadi kunci. Sistem deteksi dan alarm kebakaran dari lini produk Simplex membantu memberikan peringatan dini terhadap potensi titik api di area rawan, sehingga respons pemadaman bisa dilakukan sebelum api meluas dan menghasilkan asap dalam skala besar. Sementara itu, untuk melindungi fasilitas vital seperti puskesmas, posko kesehatan, dan sekolah di wilayah terdampak karhutla dari ancaman percikan api maupun kebakaran susulan, sistem water mist dari lini produk Shilla Fire dapat menjadi lapisan proteksi tambahan yang efisien dan minim risiko kerusakan.
Kombinasi deteksi dini, pemadaman berbasis wetting agent dan foam yang efisien, serta proteksi bangunan vital inilah yang menjadikan penanganan karhutla bukan sekadar reaktif, melainkan strategi menyeluruh dari hulu ke hilir—persis seperti yang direkomendasikan berbagai laporan internasional pasca krisis kebakaran hutan Eropa 2025.
Krisis karhutla dan kabut asap di Kalimantan tidak akan selesai hanya dengan menunggu hujan turun. Dibutuhkan strategi pemadaman kebakaran yang lebih presisi, lebih hemat air, dan lebih cepat merespons—sebelum asap kembali merenggut napas jutaan warga. PT Dinar Inti Duba hadir dengan portofolio lengkap Shilla Fire, Simplex, dan National Foam untuk mendukung penanganan karhutla yang lebih efektif di Indonesia. Hubungi tim kami sekarang, sebelum musim kemarau berikutnya kembali membawa krisis yang sama.